Selasa, 14 Juni 2011

Faktor Kematian Ibu Hamil

Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah, tetapi bukannya tanpa risiko dan merupakan beban tersendiri bagi seorang wanita. Sebagian ibu hamil akan menghadapi kegawatan dengan derajat ringan sampai berat yang dapat memberikan bahaya terjadinya ketidaknyamanan, ketidakpuasan, kesakitan, kecacatan bahkan kematian bagi ibu dan bayinya. Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan pasca persalinan, uri tertinggal, partus tak maju/partus lama serta infeksi.(Nursalam,2006) Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas merupakan masalah kesehatan yang penting, bila tidak ditanggulangi akan menyebabkan angka kematian ibu yang tinggi. Kematian seorang ibu dalam proses reproduksi merupakan tragedi yang mencemaskan. Keberadaan seorang ibu merupakan tonggak untuk tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu merupakan suatu bencana bagi keluarganya. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini dapat dipastikan sangat besar, baik bagi keluarga, masyarakat maupun angkatan kerja.(Abdullah,2007) World Health Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2005 terdapat 536.000 wanita hamil meninggal akibat hipertensi pada saat persalinan di seluruh dunia. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sub-sahara Afrika 270/100.000 kelahiran hidup, di Asia Selatan 188/100.00 kelahiran hidup dan di Asia Tenggara 35/100.000. Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2005, di Indonesia angka kematian ibu tergolong tinggi yaitu 420/100.000 kelahiran hidup dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. AKI di Singapura 14/100.000 kelahiran hidup, di Malaysia 62/100.000 kelahiran hidup dan di Thailand 110/100.000 kelahiran hidup. Di Vietnam 150/100.000 kelahiran hidup, di Filipina 230/100.000 kelahiran hidup dan Myanmar 380/100.000 kelahiran hidup.(World Health Oganization,2010) Angka Kematian Ibu merupakan indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu mulai dari masa kehamilan, persalinan dan nifas. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009, AKI di Indonesia 307/100.000 kelahiran hidup dan tahun 2009, 228/100.000 kelahiran hidup. AKI di Sumatera Utara 379/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009 dan 123/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Berdasarkan laporan Depkes tahun 2009, AKI di Indonesia 226/100.000 kelahiran hidup. Penurunan AKI di Indonesia masih terlalu lambat untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs) yaitu menurunkan angka kematian ibu tiga per empat selama kehamilan dan persalinan. Rentang tahun 2003-2009 penurunan AKI di Indonesia, jauh dari target yang ingin dicapai pada tahun 2010 dan 2015 diperkirakan 125/100.000 kelahiran hidup dan 115/100.000 kelahiran hidup.(Depkes RI, 2009) Kematian ibu menurut penyebab dibagi menjadi kematian langsung dan tidak langsung. Penyebab kematian ibu langsung yaitu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, masa nifas dan penanganan tidak tepat dari komplikasi tersebut. Penyebab kematian ibu tidak langsung yaitu akibat dari penyakit yang sudah ada atau penyakit yang timbul sewaktu kehamilan yang berpengaruh terhadap kehamilan, misalnya malaria, anemia, HIV/AIDS, penyakit kardiovaskuler, terlambat mendapat dan mencapai pelayanan kesehatan. Secara global 80% kematian ibu tergolong penyebab kematian ibu langsung yaitu perdarahan (25%) biasanya perdarahan pasca persalinan, sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%), komplikasi aborsi tidak aman (13%) dan sebab lain (7%). Hipertensi sering terjadi akibat terlalu banyak anak, partus pada usia dini atau lanjut, jarak persalinan terlalu rapat, kehamilan pertama yang dikaitkan terjadinya CPD (Chepalo Pelvis Disproporsi), tinggi badan < 150 cm, ukuran panggul yang kecil, riwayat persalinan jelek dan petugas kesehatan tidak terlatih untuk mengenali persalinan macet yang menyebabkan tingginya risiko kematian bayi.10 Penyebab utama lahir mati adalah gangguan persalinan (25%), hipertensi (19%), masalah kesehatan ibu menjelang persalinan (13%) dan malpresentasi (12%). Hipertensi akan menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi pada ibu, kadang dapat terjadi atonia uteri yang dapat mengakibatkan pendarahan postpartum. Menurut Depkes tahun 2004, ibu hipertensi yang rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia diperoleh proporsi 4,3% yaitu 12.176 dari 281.050 persalinan dan CFR ibu akibat hipertensi 0,7%. Dari hasil penelitian Khan di RS Pemerintah Karachi tahun 1991-1994 diperoleh proporsi hipertensi 2,6% yaitu 118 kasus dari 4.500 persalinan.13 Hasil penelitian Daffalah dkk di RS Pendidikan Wad Medani Sudan tahun 1997-1999 diperoleh proporsi hipertensi 1,3% yaitu 207 kasus dari 16.221 persalinan.  Hasil penelitian Orach di Uganda tahun 2000 diperoleh ibu yang meninggal akibat hipertensi 324 orang dengan CFR 26%.15 Hasil penelitian Gessessew dan Mesfin di RS Adigrat Zonal tahun 2001 diperoleh proporsi hipertensi 3,3% yaitu 195 kasus dari 5.980 persalinan dan CFR ibu akibat hipertensi 3,6%. Proporsi penyebab hipertensi yaitu CPD 64,9%, presentasi abnormal 32,5%, abnormalitas pada janin 2,1% dan mioma 0,5%. Dari hasil penelitian Mulidah dkk di RSUD Purworejo tahun 2000-2001 diperoleh proporsi hipertensi 15,5% yaitu 82 kasus dari 529 persalinan.17 Hasil penelitian Rusydi di RSUP Palembang tahun 2000-2004 diperoleh proporsi hipertensi 3,3% yaitu 350 kasus dari 10.593 persalinan. Dari hasil penelitian Syamsul di RSU Tanjung Pura Kabupaten Langkat dan RSU Kisaran Kabupaten Asahan Sumatera Utara tahun 2001, diperoleh di RSU Tanjung Pura proporsi hipertensi 44,4% yaitu 139 kasus dari 313 kedaruratan obstetri, CFR ibu akibat hipertensi 0,7% dan CFR bayi akibat hipertensi 2,2%. Di RSU Kisaran proporsi hipertensi 42,1% yaitu 118 kasus dari 280 kedaruratan obstetri dan CFR bayi akibat hipertensi 3,5%.(Depkes Sumatera Utara, 2010) Hasil penelitian Yeni di RSU Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara tahun 2002, di Tapanuli Utara diperoleh proporsi hipertensi 14,1% yaitu 30 dari 73 kasus kedaruratan obstetri. Di Tapanuli Selatan diperoleh proporsi hipertensi 41,9% yaitu 31 dari 74 kasus kedaruratan obstetri, di Deli Serdang diperoleh proporsi hipertensi 56% yaitu 37 dari 66 kasus kedaruratan obstetri. Dari hasil penelitian Abdi di RSIA Badrul Aini Medan tahun 2002-2006 diperoleh proporsi hipertensi 12,7% yaitu 411 kasus dari 3.225 persalinan dan CFR bayi akibat hipertensi 0,2%.21 Hasil penelitian Simbolon di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang tahun 2007 diperoleh proporsi hipertensi 21,7% yaitu 273 kasus dari 1.260 persalinan. Berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medik Di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2005-2009 ditemukan proporsi hipertensi 25,2% yaitu 615 kasus dari 2.436 persalinan. pada umumnya kehamilan yang sudah terdeteksi dengan risiko tinggi yang dapat menimbulkan hipertensi harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit sehingga penanganan dapat segera dilakukan. Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang karakteristik ibu bersalin dengan hipertensi rawat inap di RS Santa Elisabeth Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar